Opini

ANTARA TUYUL DAN KORUPTOR

Kemiskinan, korban permainan tuyul modern

Apakah Anda percaya kalau tuyul—hantu pencuri uang—benar-benar ada? Konon katanya, hantu ini mampu mencuri uang ratusan ribu hingga jutaan rupiah dalam sekali operasi. Hebatnya, sehari ia bisa beroperasi beberapa kali sehingga bosnya, si pemelihara, bisa kaya raya. Uniknya, di masyarakat yang sudah mengaku modern, karena sudah sangat melek teknologi, jika muncul berita ada tuyul yang ditangkap maka berbondong-bondong datang menonton. Tentu saja penangkapan tuyul bukan oleh polisi, tetapi paranormal dengan cara puasa dan mantera tertentu. Tuyul itu dimasukkan dalam botol. Masyarakat pun heboh, padahal tak ada yang dapat melihatnya sehingga para penonton tuyul hanya menatap botol kecil dengan penuh kekaguman. Entah, ini masyrakatnya pintar-pintar bodoh, atau bodoh-bodoh pintar, atau memang masyarakat sedang “sakit”.  
Hantu mungil gundul ini sebetulnya sudah lama dikenal masyarakat dengan istilah berbeda-beda. Sebetulnya sejak kapan bangsa kita mengenal hantu cilik yang juga digambarkan selalu berpenampilan bugil ini? Menurut para arkeolog,  pengenalan masyarakat Indonesia akan tuyul sudah ada sejak zaman prasejarah. Suparjiman, antropolog yang pernah meneliti tentang relevansi sistem kepercayaan dan aktivitas perdagangan,  menyimpulkan bahwa ada kalangan tertentu yang berusaha menghadirkan tokoh gaib ini untuk meraih kekuasaan. Dalam hal ini erat hubungannya dengan lelaku yang dijalankan para pedagang yang senang berziarah ke tempat-tempat keramat atau dukun-dukun untuk mencari pelarisan perdagangannya. Mereka meyakini bahwa kekuatan gaib bisa membantu usaha perdagangannya. Bahkan, kalau melihat iklan-iklan paranormal di majalah atau tabloid tak jarang mereka menawarkan tuyul dengan sistem sewa. Harganya relatif, tergantung tuyul yang akan disewa kelas eksekutif, bisnis atau ekonomi. Kelas-kelas itu menunjukkan kemampuan nyolongnya, sehingga tuyul yang “diprogram”  mencuri duit Rp 50.000  lebih murah harganya dari pada tuyul yang mampu nggondol  Rp 500.000  dalam sekali aksinya. Mungkin ke depan nanti ada sistem franchise untuk tuyul, menyaingi Kentucky maupun kafe Starbuck. Jika tuyul memang ada, mengapa pemerintah tidak mengeluarkan instruksi agar setiap warga negara memelihara tuyul, satu orang satu satu tuyul. Lalu, tuyul-tuyul itu disuruh menggasak Bank Swiss. Mungkin tak sampai setahun, hutang luar negeri kita sudah lunas.
Sebetulnya tuyul itu bermakna kiasan. Di kekinian kita tuyul bukan lagi tokoh gaib, melainkan orang yang bisa bergaib-gaib ria. Pandai mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan. Kolusi, manipulasi, korupsi, pungli, dan sebagainya, tak lebih dari tuyul-tuyul modern. Dikatakan gaib karena dengan  mata telanjang para praktisi hukum sukar melihatnya. Apalagi kalau mata orang awam yang melihatnya, pasti silau. Di negeri ini banyak pejabat yang menjadi tuyul. Akil Muchtar, Patrialis Akbar, Bupati Klaten, sedikit contoh para tuyul yang tertangkap mantera sakti paranormal bernama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Negeri ini penuh tuyul, bukan tuyul bego, tetapi tuyul yang pandai bermain trik kelas tinggi. Apalagi akhir-akhir ini muncul berita proyek E-KTP yang ternyata di-mark up sehinga merugikan negara 2 triliun rupiah. Inilah bukti nyata  keberadaan tuyul, dan untuk menanggulangi tuyul berjenggot itu  KPK harus bekerja keras dan sering kualahan. Semoga, di Kabupaten Penajam Pasir Utara tidak akan pernah muncul tuyul, apa pun bentuknya. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar